Monday, 06 Dec 2021
  • Selamat Datang di Website Official - Pondok Pesantren Al-Mubarok

Catatan untuk Hari Guru Nasional

Ingarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani (Kihajar Dewantara)

Setiap tanggal 25 November, Indonesia memberi penghormatan kepada para guru dengan peringatan Hari Guru Nasional. Melirik ke belakang membaca sejarah tentang peringatan Hari Guru, bermula dari keputusan Presiden No 78 tahun 1994 serta UU No 14 tahun 2005 tentang penetapan Hari Guru Nasional yang bersamaan dengan berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pada tahun 1912 pun sudah terbentuk Persatuan Guru Indonesia bernama Persatuan Guru Hinda Belanda (PGHB). Artinya, kesadaran persatuan para guru sudah ada sebelum Indonesia merdeka.

Indonesia adalah negara yang digagas, dibentuk, dan didirikan oleh para pendidik. Soekarno, Bung Hatta, H.O.S Cokroaminoto, Agus Salim, Syahrir dkk, mereka semua adalah pendidik. Pondasi Indonesia sangat kuat dan kokoh karena diisi oleh para pendidik yang cerdas, terampil dan berkarakter. Kesadaran tentang kemerdekaan dimulai dari orang-orang terdidik republik ini. Jumlah pendidik di republik ini sebelum kemerdekaan masih terhitung jari. Namun, ia seperti mentari pagi yang pancaran sinarnya dirasakan oleh semua makhluk bumi. Kuncinya adalah kualitas.

Namun, bagaimana potret guru dan pendidikan Indonesia saat ini. Orang bijak pernah bilang “kemajuan sebuah bangsa” diukur dari kualitas manusianya. Tanah yang subur, kekayaan alam yang melimpah, akan tak bermakna jika kualitas manusianya rendah. Kualitas manusia itu hanya dimiliki oleh seorang pendidik (guru). Saya sering mengatakan bahwa “hanya orang terdidiklah yang mampu mengelola tanah subur menjadi bermanfaat.

Selanjutnya, apa indikator dari kualitas seorang pendidik (guru). Tentu, jawaban normatifnya adalah gemar belajar. Guru itu status profesinya berbeda dengan Wali Kota, Bupati, Gubernur, Menteri atau bahkan Presiden yang memiliki batas waktu. Mereka hanya diberi waktu maksimal 10 tahun untuk mengabdi buat republik. Namun batas pengabdian seorang guru adalah saat ruh meninggalkan jasad. Ini mungkin yang menjadikan profesi guru menjadi mulia.

Guru dan ilmu adalah dua entitas yang tidak boleh dipisahkan. Ilmu pengetahuan dikenal sebagai sesuatu yang dinamis (tumbuh, berkembang dan berubah). Guru (manusia sadar) merupakan manusia bergerak yang juga tumbuh, berkembang dan berubah. Jadi, intensitas seorang guru dalam belajar akan sangat menentukan kualitas pendidikan di Indonesia. Guru abad 21 harus punya kemapanan intelektual yang baik, kesadaran teknologi dan penguasaan nilai spiritual yang kokoh.

Kemudian, kemerdekaan seorang guru tidak hanya dilihat dari kemapanan intelektualnya melainkan juga kesejahteraan ekonominya. Pernah juga terbesit dalam benak penulis tentang keseimbangan kualitas guru dengan penerimaan kapitalnya. Namun, itu urusan privat. Penulis hanya ingin menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia sudah termakan oleh budaya materialis yang membabi buta, ini akan berdampak kepada karakter guru-guru di Indonesia. Kehawatiran penulis hanya satu “orientasi guru bukan lagi mendidik (memanusiakan manusia) melainkan sebagai ladang kapital”.

Robi Sugara

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR