Wednesday, 23 Jun 2021
  • Selamat Datang di Website Official - Pondok Pesantren Al-Mubarok

Pendidikan Cinta untuk Cita

Pendidikan Cinta untuk Cita

Pikiran melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter, karakter menciptakan nasib.

-Aristoteles-

Ditulis oleh : Robi Sugara

 

Rene Descates, seorang filsuf ternama Prancis pernah mengatakan bahwa “cogito ergo sum” yang artinya “Aku berpikir maka Aku ada”. Keberadaan manusia menurut filsuf tersebut bisa dilihat dari aktifitas berpikirnya. Jika aktifitas tersebut sudah terhenti, maka ketidakberadaan manusia adalah sebuah kepastian. Berpikir adalah simbol eksisensi manusia yang harus terus dipertahankan.

Dalam sejarah, Nabi Muhammad pada usia yang ke 40 tahun dilantik sebagai Nabi dimulai dengan turunnya wahyu pertama Iqra` bismi rabbikallażī khalaq dst, saat itu malaikat Jibril yang ditugaskan Tuhan untuk menyampaikannya. Ke lima ayat dari wahyu tersebut terdapat satu kata berpretensi sebagai perintah yaitu Iqra (Bacalah). Pertanyaanya, apakah ketika wahyu itu disampaikan kepada Nabi dalam bentuk tulisan sehingga nabi dapat membacanya? tentu Jibril hanya menyampaikan wahyu tersebut secara lisan, dan Nabi menjawab bahwa dirinya tidak dapat membaca. Ada juga pendapat lain yang mengatakan Nabi kembali bertanya, Apa yang Aku baca?. Di sini sebenarnya kata tersebut karena tidak menghadirkan objek yang dibacanya maka kata tersebut mengandung makna tersirat dari kata Iqra yaitu “berpikirlah”. Jadi, Nabi Muhammad sebelum melangkah kepada dakwah, pertama kali yang Tuhan perintahkan kepadanya adalah berpikir. Kegiatan berpikir tersebut yang nantinya akan melahirkan tindakan yang matang. Sejalan dengan yang dikatakan filsuf kenamaan Yunani Aristoteles yaitu Pikiran melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter,karakter menciptakan nasib.

Kemudian, kalau melihat kamus-kamus bahasa ditemukan makna yang beragam dari kata Iqra yaitu, menyampaikan, menelaah, meneliti, mengetahui ciri-cirinya dsb. Kesemua definisi itu dikembalikan kepada hakikat “menghimpun”. Pada saat membaca tulisan apapun, kita akan menemukan satuan huruf yang saling menyatu menjadi suku kata, kata, kalimat dan paragraf. Ketahuilah penyatuan itu dimaksudkan agar tulisan tersebut mengandung makna. Jika dikembalikan dengan kejadian sejarah Nabi di atas maka yang dapat dipahami adalah bahwa Nabi diperintah untuk membaca dirinya, lingkungan sosialnya, keyakinan yang dianut oleh masyarakat waktu itu dan lebih luas lagi.

Kata iqra dalam wahyu pertama di atas ada yang disandingkan dengan kata akram, dan kata al- Akram sendiri di dalam al-Qur’an hanya disebut dua kali yaitu dalam surat al-Alaq ayat 3 dan surat al-Hujarat ayat 13. Kata akram jika ditarik ke akar katanya yaitu karama maka artinya memberikan dengan mudah dan tanpa pamrih, bernilai tinggi, terhormat, mulia, setia, dan kebangsawanan. Prof Quraish Shihab dalam karyanya membumikan al-Qur’an menuliskan kandungan ayat wa rabbuka al-Akram dengan pengertian bahwa Tuhan dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi segala/semua hambanya yang membaca. Dalam sejarah puncak peradaban ilmu pengetahuan pernah diraih oleh ummat islam dimulai dengan membaca.

Saat ini salah satu tempat yang berpotensi untuk mendidik, menumbuhkan serta mengembangkan pikiran manusia adalah sekolah, pesantren dan perguruan tinggi, kesemuanya itu merupakan tempat pendidikan kemanusiaan. Sebenarnya ketiganya itu sangat sempit jika dijadikan dasar tempat manusia belajar, karena Kihajar Dewantara pun pernah berkata “setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap buku adalah ilmu”. Ketika setiap tempat adalah sekolah maka lingkungan, alam di mana manusia berpijak di situlah tempat ia belajar.

Lantas, Apa peran pendidikan terhadap proses berpikir manusia?

Setidaknya harus kita pahami terlebih dahulu secara filosofis holistik (pemahaman mendalam) tentang pendidikan itu sendiri. Kalau bertanya soal pendidikan dari sudut pandang ontologis misalnya, maka pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah pendidikan itu ada? Pendidikan yang seperti apakah yang seharusnya ada?  Mungkin akan menemukan jawaban yang beragam dari pertanyaan tersebut. Tapi setidaknya dengan pertanyaan itu muncul kita semua merasa terpanggil untuk merenung dan menjawab apa sebenarnya hakikat dari pendidikan itu sendiri.

Kita pahami terlebih dahulu pendidikan dari segi kebahasaan. Dalam bahasa Arab minimal ada tiga kata kunci yang memiliki hubungan dengan pemaknaan pendidikan, yaitu al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib. Mengutip dari kamus Mu’jam al-Lughah al-Arabiyah, kata al-tarbiyah diartikan sebagai: pendidikan, pengembangan, pengajaran, perintah, pembinaan kepribadian, memberi makan, menumbuhkan. Apabila mengutip dari Kamus al-Munawwir maka kata al-tarbiyah itu turunan dari kata rabba, yarubbu, rabban yang berarti memelihara, mengasuh dan mendidik. Bisa kita lihat bahwa makna yang dilahirkan dari kata al-tarbiyah begitu beragam. Sehingga definisi yang dilahirkannya pun variatif. Namun, jika pun demikian pasti terdapat hakikat dari pemaknaan kata tersebut. Dari kata rabba, yarbu tarbiyatan kita mendapatkan makna zad (tambah) dan numu (berkembang). Kalau dilihat secara kontekstual makna yang lahir dari turunan tersebut melahirkan dua kata yaitu tambah dan berkembang. Proses menumbuhkan dan mengembangkan inilah yang semestinya menjadi consen yang dihadirkan oleh setiap lembaga pendidikan. Karena manusia adalah subjek dari pendidikan itu sendiri maka proses menumbuhkan dan mengembangkan menjadi people oriented.

Pertanyaanya, apa yang tumbuh dan apa yang berkembang?

Karena dijelaskan tadi bahwa manusia adalah pelaku dari pendidikan itu sendiri, berarti pemaknaannya harus menyentuh dimensi kemanusiaan. Manusia dicipta minimalnya dari dua dimensi yaitu dimensi jasmaniyah dan ruhaniyah. Kedua dimensi itu memiliki hak yang harus mereka terima lalu setelahnya diberikan kewajiban untuk mengerjakan amanah-Nya. Jasmaniyah itu punya fitrah tumbuh, untuk tumbuh jasmaniyah perlu pendukungnya. Misalnya, jasmani memerlukan sandang pangan dan tempat berteduh yang nyaman agar proses tumbuhnya maksimal. Pohon yang tumbuh subur biasanya lahir dari biji yang unggul dan perawatan yang intens guna menghasilkan manfaat dari pohon itu. Ruhaniyah pun sama ia tumbuh dan perlu diberikan nutrisi, sama dengan jasmani. Namun nutrisi yang diberikan kepada ruhani berbeda dengan jasmani misalnya aktifitas dzikir (mengingat) Tuhan, melakukan kebajikan, dan hal-hal lain yang sejenisnya.

Selanjutnya, dalam falsafah ternyata manusia punya kekuatan yang diunggulkan dari kedua dimensi di atas yaitu ‘aql (akal). Nah dari sini lahirlah aktifitas berpikir yang dilakukan manusia. Pendidikan berperan penting untuk menuntun cara berpikir benar dengan dasar ilmu pengetahuan. Karena berpikir akan menuntun kepada tindakan, maka kegiatan berpikir harus benar-benar diperhatikan langkah-langkahnya. Sehingga tindakan yang dilakukan nantinya bernilai bajik. Inilah yang dinamakan proses tumbuh dan berkembang dari akal yang lahir dari pemaknaan pendidikan.

Mungkin kita sudah familiar mendengar kata literasi dalam dunia pendidikan, ia biasanya dimaknai sebagai sebuah aktifitas tulis dan baca, titik. Padahal, makna sebenarnya adalah proses belajar yang bermula dari ketidaktahuan menjadi proses pengetahuan. Jadi literasi yang dimaksud disini maknanya lebih luas. Jadi literasi harus dimaknai sebagai proses merubah yang awalnya gelap menjadi terang. Berpikir benar dan baik akan menuntun manusia kepada tindakan yang baik juga benar, jika tindakan yang lahir dari konsep berpikir benar dan baik itu terus dilakukan maka akan menjadi sebuah kebiasaan dan nantinya akan menjadi karakter/kepribadian. Bahkan Aristoteles seperti ungkapannya di atas bahwa karakter akan menciptakan nasib.

Menjawab pertanyaan ontologis di atas bahwa pendidikan yang seharusnya ada adalah pendidikan yang secara totalitas mengarahkan kepada kualitas manusia. dimulai dengan terus mengupgrade ilmu pengetahuan, keteladanan dan kritis.

Selama pendidikan Indonesia masih di bawah bayang-bayang kapitalis atau bahkan yang lebih menggilakan lagi adalah komersialisasi pendidikan, maka jangan menuntut pemerataan kualitas manusia dapat tercapai.

 

penulis
admin

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR