Wednesday, 23 Jun 2021
  • Selamat Datang di Website Official - Pondok Pesantren Al-Mubarok

Akal Dan Hati Yang Merdeka

Akal Dan Hati Yang Merdeka
Oleh: Robi Sugara
(Head Master School of Philoshopy Averroes Serang & History Teacher at Al-mubarok Islamic boarding school)

“Kuburan yang paling gelap adalah buku yang ditutup dan neraka yang paling panas adalah ilmu yang tidak disentuh.”
-Robi Sugara-
Sejarah yang dulu diciptakan oleh pejuang kemerdekaan kini datang kembali dengan rupa yang berbeda. 75 tahun bangsa ini merdeka dari jeratan penjajah yang menodai martabat kemanusiaan. Awalnya mereka sebagai tamu yang kami terima secara santun, namun akal mereka picik menjadikan kelembutan dan kesantunan kami sebagai peluang untuk mereka menjajah. Beginilah akal bulus manusia-manusia serakah yang mencoba membaur dengan kebenaran, keakraban, kesantunan tapi menaruh duri yang mencelakakan. Inilah manusia hewan yang berada di tengah manusia sejati.
Di atas hanya sebagai refleksi penulis dalam menerjemahkan kejadian singkat masa lalu bangsa ini. Penulis tidak akan merekam ulang kejadian masa lalu sebagai narasi sejarah. Namun yang menjadi kajian penulis kali ini adalah seputar dunia sifat immaterial manusia yang dibungkus dengan diksi “kemerdekaan”. Yah, penulis akan bahas “Akal dan Hati yang merdeka”. Sebelum masuk kedalam epistimologinya ijinkan penulis memperkenalkan anak-anak bangsa yang penulis anggap sebagai manusia merdeka pada masanya. Siapa yang tidak kenal dengan Bung Karno, Bung Hatta, TanMalala, Agus Salim, Sang Jendral Sudirman, A.R Baswedan dkk. Mereka adalah manusia merdeka yang menggunakan kecerdasan akal dan kerjernihan hatinya untuk kemerdekaan bangsa ini.
Merdeka dalam kamus bahasa indonesia artinya “bebas, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang.” Merdeka juga bisa berarti “menang.” Menang melawan raga sekemanusiaan dan menang melawan segala bentuk kejumudan. Tokoh-tokoh yang penulis kenalkan di atas merupakan contoh bapak bangsa yang merakit dan menenun republik ini dengan segudang ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Bayangkan jika republik ini dibentuk tidak dengan pikiran yang berkualitas mungkin konklusi yang dihasilkan tidak seindah dan segemilang sekarang.
“pikiran berkualitas” yang sengaja penulis tawarkan kepada para pembaca terkhusus para santri dan dewan guru. “Pikiran” atau akal itu berevolusi dalam pengertian tumbuh dan berkembang. Segala yang hidup pada fitrahnya ia bergerak, tumbuh dan berkembang. Pun dengan pikiran, jika pikiran sudah berhenti tumbuh dan berkembang artinya pikiran itu telah mati.
Manusia itu makhluk dua dimensional, ada juga yang mengatakan tiga dimensional menurut Ali Syariati. Dua dimensional itu artinya dua wujud yang menyatu secara sempurna yaitu raga dan jiwa. Raga sebagai materi unik dan sempurna yang Tuhan cipta dengan nilai estetika yang mengagumkan. Namun raga akan mati jika tidak dimasukkan dengan yang menggerakkan yaitu jiwa. Raga secara eksitensial ia dapat dilihat bentuknya dan bisa dipoles sesuai kehendaknya masing-masing. Mimik wajah bisa dipoles dengan kemauan sesuai standar estetis yang dikehendakinya, kulit bisa dipoles sesuai kemauan estetisnya bahkan manusia terkadang berlomba-lomba untuk mempercantik dan memperindah raganya. Apalagi manusia abad 21 yang dikenal dengan manusia style, manusia yang tidak mau kalah dengan urusan penampilan, semahal apa pun terkadang itu pakaian tetap dibelinya agar raganya kelihatan indah dan mempesona. Yah itulah tabiat manusia yang tidak bisa lepas dari nilai estetis. Bisa penulis katakan inilah manusia dalam pengertian “Raga yang Merdeka” Titik!!
Namun, terkadang kita lupa dengan dimensi yang satunya yaitu jiwa. Bahkan salah satu filosuf mendefinisikan manusia adalah jiwa itu sendiri. Karena menurut pandangannya raga hanya rupa eksistensial yang tidak punya nilai selama jiwa lepas darinya. Nah, dalam jiwa penulis ambil dua bagian saja yaitu Akal dan Hati yang menurut penulis dua hal inilah yang menentukan kualitas manusia.
Pernah saya bertanya kepada salah satu santri tentang dimana letak akal dalam diri manusia? dengan lantang santri menjawab: “di Otak”. Kemudian saya tanyakan lagi, apakah otak dan akal itu sama? dijawab: “Iya”. Sejak kapan Akal berpindah alam yaitu menjadi materi? Nah disitulah kemudian terjadi kebuntuan untuk meretorasi tentang letak akal. Sedikit penulis jelaskan tentang dua dimensional manusia agar dipahami bahwa manusia tidak diciptakan dengan satu dimensi. Akal pun sama dengan raga yang selalu ingin dipoles untuk sampai pada tingkat estetis yang paling tinggi. Tentu cara mempercantik akal bukan dengan alat-alat makeup yang dikenakan raga. Alat yang terbaik untuk memoles dan mempercantik akal adalah ILMU PENGETAHUAN. Ini yang lupa dari kita, terlena dengan urusan materi sehingga lupa dengan dimensi yang satunya. Proses untuk mendapatkan ilmu adalah dengan cara BELAJAR. Akal akan tumpul bahkan tidak lagi berfungsi selama proses pencarian ilmu itu berhenti.
Menteri pendidikan sekarang membuat satu kemerdekaan baru yaitu “Merdeka Belajar”. Nah kalau kita korelasikan dengan belajar sebagai cara untuk mempercantik akal, maka dengan sadar menteri pendidikan menginginkan kecantikan Akal itu membumi di rakyat indonesia. sekaya apapun SDA sebuah bangsa apabila akal-akal rakyatnya rendah maka mustahil mampu mengeksploitasinya.
Satu kecenderungan yang tidak dicontoh oleh kita dari bapak bangsa adalah “Bagaimana Bapak Bangsa Membaca Buku”. Nah, sejalan juga yang pernah dikatakan Pak Anies Baswedan tentang lemahnya “Daya Baca” masyarakat kita. Bapak bangsa, Bung Hatta pernah bilang; “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Semakin banyak engkau membaca, semakin cantik pula akalmu berpikir. Dengan belajar dan meningkatkan daya baca penulis optimis dengan kemerdekaan Akal yang sesungguhnya. Nah inilah yang penulis sebut sebagai “Akal yang Merdeka”.
Selanjutnya hal yang paling penting dari jiwa itu sendiri adalah “Hati”. Akal yang memiliki potensi kuat untuk berpikir sedangkan Hati berpotensi kuat untuk merasa. Iqbal dalam bukunya Rekonstruksi Pemikiran Religius Dalam Islam mengatakan bahwa hati memiliki kandungan kognitif yang cenderung benar. Dalam perspektif teologis yang dibangun oleh ajaran islam tentang bagaimana mengelola kejernihan hati agar menghasilkan keseimbangan. Islam mengajarkan untuk memperbanyak dzikir dan melakukan aktifitas yang positif. Biasanya lebih banyak manusia berdzikir akan lebih banyak mendapatkan ketenangan hati. Condangkan hati kepada hal-hal yang bersifat relijiusitas supaya tetap terbalut dengan kebaikan, kebenaran dan keindahan. Hati yang sering diolah dengan ragam kebenaran agama maka hati akan mengekpresikan dirinya melalui sikap yang lemah lembut, sopan dan penuh kebajikan.
Akal dan Hati yang merdeka akan menjadikan manusia yang berkarakter insani. Manusia merdeka. Manusia yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi, bekerja dengan tulus dan ikhlas tanpa misi kapitalisasi diri.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR